
Dua bisnis katering telah ditangguhkan karena keterkaitannya dengan kasus keracunan makanan di ByteDance pada 30 Juli, yang menyebabkan 130 karyawan sakit parah.
Foto: oleh LIANHE ZAOBAO
Natalie Tan
Diperbarui pada 12 Agustus 2024, 15:09
SINGAPURA - Dua kasus keracunan makanan massal yang terpisah melanda Singapura pada bulan Juli, dengan total 165 personel Singapore Civil Defence Force (SCDF) dan 130 karyawan perusahaan teknologi asal Tiongkok, ByteDance, jatuh sakit dalam kurun waktu sekitar satu minggu.
Antara tanggal 23 dan 24 Juli, personel SCDF di Civil Defence Academy (Akademi Pertahanan Sipil) melaporkan kasus keracunan makanan. Mereka menderita gastroenteritis ringan, dengan gejala rasa tidak nyaman pada perut dan diare.
Pada tanggal 30 Juli, SCDF menerima sejumlah panggilan dari para karyawan ByteDance yang mengalami muntah-muntah dan nyeri perut hebat. Dua bisnis katering ditangguhkan izin operasionalnya karena keterkaitan mereka dengan kasus tersebut, yang mengakibatkan 130 karyawan sakit parah, bahkan beberapa di antaranya terpaksa muntah ke dalam tempat sampah karena tidak sempat mencapai toilet. Sejak saat itu, penangguhan terhadap salah satu penyedia katering telah dicabut.
The Straits Times mengupas tuntas sains di balik bagaimana makanan matang bisa basi, dan alasan mengapa kita jatuh sakit setelah menyantapnya.
Keracunan makanan, atau gastroenteritis, adalah reaksi tubuh terhadap toksin (racun) yang masuk melalui makanan.
Gejalanya meliputi muntah, diare, mual, dan nyeri perut. Gejala-gejala ini merupakan cara tubuh untuk mengeluarkan racun tersebut.
Makanan dapat terkontaminasi oleh organisme beracun, seperti bakteri atau virus. Terkadang, produk sampingan dari organisme ini yang juga mengandung toksin dapat menyebabkan keracunan makanan.

Virus adalah parasit mikroskopis yang tidak dapat bertahan hidup sendiri.
Ini berarti mereka membutuhkan inang yang hidup, seperti sel manusia, agar dapat bertahan dan berkembang biak.
Tubuh yang mengalami serangan virus mirip dengan sebuah kapal pesiar yang disergap oleh bajak laut, kata Profesor William Chen, direktur dari Nanyang Technological University’s (NTU) Food Science and Technology Programme serta Future Ready Food Safety Hub NTU.
Virus dapat membajak dan merusak sel-sel saluran cerna tubuh, layaknya bajak laut yang menyerang penumpang kapal pesiar dan menguras sumber daya kapal hingga target baru ditemukan, jelas Prof. Chen.
Virus itu kemudian akan berpindah ke tubuh lainnya.

Ilustrasi ST: Billy Ker
Virus yang dapat menyebabkan keracunan makanan antara lain adalah norovirus dan rotavirus, yang dapat ditemukan pada kerang mentah atau yang kurang matang, serta pada partikel muntahan dan feses orang yang terinfeksi.
Ketika makanan yang terkontaminasi norovirus atau rotavirus dikonsumsi, virus tersebut akan menginvasi sel inang dan menyebabkan kematian sel, ujar Dr. Aaron Poh, konsultan bedah kolorektal sekaligus direktur medis di Alpine Surgical Practice.
Sel-sel usus pun menjadi tidak mampu menjalankan fungsi normalnya untuk menyerap air, sehingga memicu terjadinya diare.
Bagaimana bakteri dapat menyebabkan keracunan makanan?
Tidak semua bakteri menyebabkan penyakit pada manusia.
Beberapa jenis bakteri justru bermanfaat, termasuk bakteri yang ditemukan dalam mikrobioma usus manusia, serta bakteri yang digunakan dalam proses fermentasi anggur, roti, dan kimchi.
Namun, bakteri "jahat", seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), Listeria, dan Bacillus cereus (B. cereus), dapat menghasilkan racun yang bisa memicu diare atau muntah.
Jika virus diibaratkan seperti bajak laut, bakteri lebih seperti penumpang di kapal pesiar, kata Prof. Chen.

Ilustrasi ST: Billy Ker
Penumpang yang baik tidak menimbulkan bahaya, sementara penumpang yang buruk menimbulkan kekacauan dengan membuang sampah sembarangan atau merusak fasilitas kapal pesiar, layaknya bakteri berbahaya yang menghasilkan racun yang membuat tubuh menjadi sakit.
Berbeda dengan virus, yang mana dokter mungkin tidak memiliki pengobatan khusus untuknya, bakteri dapat dibunuh dengan antibiotik, ujar Dr. Poh.
Apa saja gejala keracunan makanan?
Tergantung pada bakteri atau virus yang memicu gastroenteritis, gejala dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Keracunan makanan akibat bakteri cenderung menunjukkan gejala yang lebih cepat. Seseorang mungkin merasakan gejala dalam hitungan menit hingga jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, tetapi kondisi ini biasanya hanya berlangsung selama 2 hingga 3 hari.
Keracunan makanan akibat virus cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk menunjukkan gejala dan dapat berlangsung hingga seminggu atau 10 hari.
Gejala keduanya bisa sangat mirip: diare, muntah, dan sakit perut.
Demam ringan juga bisa terjadi. Namun, jika demamnya tinggi, hal itu bisa jadi merupakan kasus keracunan makanan yang lebih parah, atau justru menandakan kondisi lain yang sama sekali berbeda, kata Dr. Poh.
Dr. Benjamin Yip, konsultan gastroenterologi dan direktur medis Alpha Digestive and Liver Centre, juga menyoroti bahwa keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri cenderung lebih parah, menyebabkan diare berdarah serta demam yang lebih tinggi.
Siapa saja bisa mengalami keracunan makanan, tetapi mereka yang berusia sangat muda dan sangat tua akan terdampak lebih parah karena sistem imun tubuh mereka cenderung lebih lemah, kata Dr. Poh.
Mengenai apakah sebagian orang secara alami lebih rentan terhadap keracunan makanan, beliau mengatakan: "Saya rasa tidak ada orang yang pada dasarnya lebih rentan terhadap keracunan makanan. Jika ada, itu karena mereka mungkin sudah memiliki penyakit bawaan sebelumnya."
Lebih lanjut mengenai topik ini
Hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat memulihkan diri dari keracunan makanan
Anda mungkin tidak dapat mengetahuinya hanya dengan melihat atau bahkan hanya dengan mencium bau makanannya saja.
Hal ini karena bakteri dapat memengaruhi makanan Anda dengan dua cara: menyebabkan kerusakan pada makanan (pembusukan) atau meracuninya.
Kerusakan makanan terjadi ketika ada perubahan kualitas pada makanan, yang mengakibatkan keracunan jika makanan yang rusak tersebut dikonsumsi.
Sebagai contoh, susu yang dibiarkan terbuka akan menjadi asam karena bakteri di dalam susu menghasilkan asam dan produk limbah. Bau asam tersebut menandakan bahwa susu telah basi. Jika dikonsumsi, susu yang rusak tersebut dapat membuat seseorang sakit.
Namun, makanan yang terkontaminasi bakteri jahat mungkin sama sekali tidak terlihat atau tercium perbedaannya.
Nasi lemak yang tersaji di meja Anda mungkin terlihat atau bahkan terasa baik-baik saja, tetapi karena penjual makanan tidak mencuci tangannya, makanan tersebut bisa saja telah terkontaminasi bakteri berbahaya.
Bakteri berbahaya menghasilkan racun yang tetap menempel pada makanan. Meskipun bakteri tersebut dapat dibunuh dengan memanaskan makanan, racun yang mereka tinggalkan cenderung lebih tahan panas dan tidak mudah dimusnahkan.

Lebih lanjut mengenai topik ini
Seperti kebanyakan penyakit lainnya, deteksi dini adalah kuncinya. Jika Anda merasa mungkin telah mengonsumsi makanan basi, penting untuk memperhatikan gejala-gejala yang muncul dan segera mencari bantuan medis jika diperlukan.
Informasi seperti kapan gejala mulai muncul, makanan apa yang mungkin Anda konsumsi, dan apakah ada orang lain yang Anda kenal, yang menyantap makanan yang sama, juga menunjukkan gejala serupa, sangat penting untuk dicatat agar dokter tahu cara penanganan yang tepat, kata Prof. Chen.
Untuk kasus yang lebih ringan, pasien harus ingat untuk tetap terhidrasi, karena muntah dan diare membuat banyak cairan hilang. Dr. Yip menyarankan untuk membeli garam rehidrasi oral (oralit) yang dijual bebas atau membuat larutannya sendiri di rumah dengan glukosa dan garam dapur, guna menjaga tubuh tetap sehat dengan nutrisi yang penting bagi tubuh.
"Hal utama yang selalu membedakan (antara kasus yang lebih parah dan yang tidak) adalah apakah (seorang pasien) mampu menahan cairan di dalam tubuhnya," ujar Dr. Poh.
Kasus yang lebih parah melibatkan periode muntah-muntah yang sangat sering sehingga tubuh tidak dapat menggantikan seluruh cairan yang hilang.
Dalam kasus seperti ini, pasien lebih berisiko mengalami dehidrasi dan akan disarankan untuk dirawat inap di rumah sakit guna mendapatkan infus. Mereka akan disuntikkan cairan untuk mengganti cairan dan nutrisi yang hilang, serta obat-obatan untuk mengurangi mual guna membantu mereka melewati fase akut tersebut.
Karena bakteri berkembang biak dengan pesat pada suhu yang lebih hangat, iklim di Singapura yang panas mendukung pertumbuhan patogen penyebab penyakit melalui makanan dan menempatkan kita pada risiko yang lebih besar untuk mengalami keracunan makanan.
Karena kita tidak dapat melihat dengan mata telanjang kapan kita benar-benar terpapar mikroorganisme patogen atau toksin melalui makanan, "pencegahan melalui penerapan praktik kebersihan makanan dasar adalah senjata kita yang paling ampuh", ujar Prof. Chen.
Makanan harus dimasak sampai matang sempurna dan disimpan di lemari es dengan suhu dingin, alih-alih dibiarkan di ruang terbuka.
Para pengolah makanan harus berhati-hati untuk mencegah kontaminasi silang, termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, serta memastikan bahwa semua peralatan masak dan makan telah disanitasi secara menyeluruh.
Lebih lanjut mengenai topik ini


Hak Cipta © Praktek Bedah Alpine | Ketentuan & Kondisi