
Tahukah Anda bahwa kanker lambung telah merenggut nyawa dari 300-500 penduduk di Singapura setiap tahunnya? Meskipun angka kanker lambung di tingkat lokal telah menurun dibandingkan tahun-tahun pasca-perang, sebagian faktor juga berkat meningkatnya kesadaran masyarakat, kanker lambung tetap sering ditemukan di Singapura.
Kanker lambung, yang juga dikenal sebagai kanker gastrik, adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkembangnya sel-sel kanker ganas (atau tumor) di lapisan lambung. Hal ini menyebabkan berbagai gejala dan implikasi fisiologis yang dapat mematikan jika tidak segera ditangani.
Kanker lambung cenderung tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) selama tahap awal. Akibatnya, dua pertiga kasus kanker lambung tidak terdiagnosis hingga mencapai stadium lanjut, yang mana hal ini mengurangi peluang pengobatan yang efektif dan pemulihan yang cepat.
Meski demikian, penemuan terbaru dalam riset diagnostik yang dilakukan oleh Duke-NUS Medical School, National University Hospital (NUH), dan Yong Loo Lin School of Medicine dari National University of Singapore, menawarkan potensi untuk deteksi dini terhadap kanker lambung. Terobosan tersebut, yang disorot dalam artikel Straits Times pada Desember 2023, mengungkap faktor genetik krusial yang terkait dengan perubahan pada lapisan lendir lambung. Tepatnya, individu dengan kondisi metaplasia intestinal, yaitu perubahan sel pada selaput lendir lambung yang sering kali disebabkan oleh gastritis kronis (peradangan lapisan lambung), enam kali lebih berisiko untuk terkena kanker lambung.
Berdasarkan penemuan ini, para dokter didorong untuk menyarankan tes genetik, seperti tes darah sederhana dan hemat biaya, untuk mengidentifikasi individu dengan risiko tinggi terkena kanker lambung. Kemajuan ini menjanjikan peluang bagi pasien yang berisiko untuk mendapatkan diagnosis pasti yang lebih dini dan perawatan yang lebih tepat waktu, sehingga mempercepat pemulihan serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Hal ini menyediakan data klinis berharga yang dapat membantu dalam upaya pencegahan (mencegah penyakit dengan pendekatan yang sangat terarah dan personal) serta pengobatan yang lebih presisi (menyesuaikan pengobatan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti susunan genetik, gaya hidup, dan lingkungan seseorang) terhadap kanker lambung.
Selain faktor risiko berupa kondisi lambung yang sudah ada sebelumnya, seperti gastritis kronis, terdapat beberapa faktor risiko utama lainnya yang terbukti berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ini:

Kanker lambung sering dijuluki sebagai "musuh tersembunyi" karena biasanya tidak disadari hingga mencapai stadium lanjut, sehingga menimbulkan risiko yang signifikan bagi kesehatan penderitanya. Memahami tanda-tanda kanker lambung sangatlah krusial untuk deteksi dini:
Menurut Dr. Aaron Poh, seorang dokter bedah umum dengan sub spesialis dalam bedah kolorektal, keberadaan gejala-gejala ini tidak selalu berarti bahwa Anda mengidap kanker lambung, karena beberapa pasien di Singapura bahkan tidak menunjukkan gejala tersebut saat pertama kali didiagnosis. Oleh karena itu, jika Anda mengalami masalah lambung yang terus-menerus, seperti gastritis kronis, Anda perlu mengidentifikasi akar masalahnya dan segera mengobatinya.
Gastroskopi, yang juga dikenal sebagai EGD (Esophagogastroduodenoscopy) dan endoskopi atas, memfasilitasi deteksi dini pada kanker lambung. Gastroskopi adalah prosedur medis yang melibatkan spesialis gastrointestinal untuk mengevaluasi esofagus (saluran yang menghubungkan tenggorokan dan lambung), lambung, dan usus halus (duodenum). Pemeriksaan yang aman dan minimal invasif ini dilakukan dengan menggunakan alat tipis dan fleksibel yang dikenal sebagai endoskop.
Poin-poin berikut menyoroti berbagai kemampuan gastroskopi dalam menangani kanker lambung:
Mendeteksi Lesi Pra-kanker dan Kanker Lambung
Gastroskopi memungkinkan visualisasi lapisan lambung secara langsung, sehingga mempermudah identifikasi lesi pra-kanker seperti metaplasia intestinal, displasia tingkat tinggi, atau carcinoma in situ (CIS). Mendeteksi tanda-tanda peringatan dini ini dapat membuka kesempatan untuk melakukan intervensi medis sebelum tumor sempat berkembang.
Di antara berbagai teknologi skrining yang tersedia saat ini, gastroskopi juga dikenal sebagai tes yang paling sensitif untuk mendeteksi kanker lambung. Hal ini berarti gastroskopi sangat unggul dalam mengidentifikasi individu yang benar-benar mengidap kanker lambung (positif benar) secara akurat, sekaligus meminimalisir kemungkinan hasil negatif palsu.
Skrining Individu Berisiko Tinggi
Pencegahan presisi melibatkan penyesuaian rekomendasi skrining berdasarkan profil risiko tiap individu. Dokter bedah kolorektal Anda mungkin merekomendasikan pasien dengan faktor risiko yang telah disebutkan sebelumnya, atau mereka yang memiliki riwayat masalah lambung kronis, untuk menjalani skrining endoskopi atas secara rutin. Pendekatan skrining yang terarah ini memungkinkan dokter bedah untuk memantau individu berisiko tinggi secara ketat dan mendeteksi kelainan lambung pada tahap yang paling awal, sekaligus mengurangi risiko dilakukannya skrining yang tidak perlu bagi mereka yang memiliki risiko rendah.
Membuat Program Pemantauan yang Dipersonalisasi
Dengan memanfaatkan data klinis dari hasil endoskopi atas, dokter bedah kolorektal dapat menyusun rencana pemantauan yang dipersonalisasi bagi mereka yang berisiko tinggi terkena kanker lambung, serta menyarankan pemantauan yang lebih sering bagi pasien-pasien tersebut.
Pengobatan untuk polip non-kanker atau tukak: Jika polip terdeteksi, dokter bedah kolorektal Anda mungkin memilih untuk melakukan biopsi atau mengangkat polip tersebut selama prosedur endoskopi. Polipektomi, electrocautery, atau perawatan berbasis laser, adalah beberapa prosedur umum yang dipakai untuk mengangkat polip.
Pengobatan terlokalisasi untuk kanker stadium awal: Ketika kanker lambung terdeteksi pada stadium awal, endoskopi atas dapat digunakan sebagai alat yang presisi untuk pengobatan terlokalisasi. Prosedur Endoscopic Mucosal Resection (EMR) atau Endoscopic Submucosal Dissection (ESD) dapat dilakukan untuk mengangkat tumor kecil yang terlokalisasi tanpa risiko seperti yang menyertai operasi invasif. Pengobatan ini juga memungkinkan masa pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan operasi invasif tradisional.
Jika Anda sedang berjuang menghadapi masalah lambung yang muncul terus-menerus, seperti gangguan pencernaan, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau rasa tidak nyaman yang kronis, Anda perlu segera mengambil tindakan agar mendapatkan perbedaan yang besar. Deteksi dini dan pemahaman tentang sumber gejala dapat membuka jalan bagi penanganan yang efektif serta peningkatan kesehatan pencernaan. Hubungi Alpine Surgical Practice sekarang untuk menjadwalkan konsultasi dengan Konsultan Bedah Umum, Dr. Aaron Poh, yang memiliki subspesialisasi ganda di bidang Bedah Kolorektal dan Bedah Trauma.
Alpine Surgical Practice menawarkan paket pemeriksaan kesehatan pencernaan lengkap yang akan membantu Anda memahami lebih lanjut tentang kesehatan pencernaan serta sumber penyebab dari masalah lambung yang Anda alami.


Hak Cipta © Praktek Bedah Alpine | Ketentuan & Kondisi