
Diagnosis kanker yang baru-baru ini dialami oleh Catherine, Putri Wales yang berusia 42 tahun, telah menyoroti peningkatan kekhawatiran global terhadap jenis kanker tertentu di antara mereka yang berusia di bawah 50 tahun. Berita ini tidak hanya menjadi pengingat keras bahwa kanker dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, tetapi fenomena kanker yang muncul di usia muda ini juga lazim terjadi di Singapura. Meskipun banyak jenis kanker yang umum ditemukan di Singapura, artikel ini akan fokus sepenuhnya pada kanker usus besar (kanker kolon), penyebab kematian nomor dua yang paling utama bagi pria maupun wanita di wilayah setempat.

Berlawanan dengan kepercayaan populer, kanker usus besar jelas bukanlah "penyakit orang tua". Faktanya, para dokter spesialis gastroenterologi telah menyadari tren peningkatan yang mengkhawatirkan pada jumlah anak muda, khususnya generasi milenial, yang terdiagnosis kanker usus besar di Singapura. Pergeseran ini telah mengubah kanker ini menjadi perhatian medis signifikan yang memerlukan perhatian dan tindakan segera. Peningkatan yang mengkhawatirkan ini menimbulkan implikasi sosial yang serius, termasuk melonjaknya biaya kesehatan, peningkatan beban emosional dan finansial pada keluarga, serta potensi penurunan produktivitas tenaga kerja.
Di tingkat lokal, kita melihat adanya tren yang problematis di mana warga Singapura usia muda luput dari skrining kanker usus besar karena mereka belum memenuhi rekomendasi usia. Meskipun Ministry of Health Singapore (MOH)/Kementerian Kesehatan Singapura merekomendasikan skrining rutin untuk kanker usus besar bagi mereka yang berusia 50 tahun ke atas, hal tersebut hanyalah panduan umum yang tidak mempertimbangkan faktor risiko lain setiap individu. Ulasan ini akan menyajikan panduan pemeriksaan kanker usus besar yang lebih rinci.

Kanker usus besar, yang juga disebut sebagai kanker saluran cerna atau kanker kolorektal, bermula sebagai polip pada lapisan dalam usus besar atau rektum. Meskipun polip awalnya merupakan pertumbuhan sel yang bersifat jinak, mereka dapat tumbuh di luar kendali dan berkembang menjadi kanker usus besar jika tidak diobati.
Menurut Singapore Cancer Society, kasus kanker (termasuk kanker usus besar) di antara individu di bawah usia 50 tahun naik sebesar 10,4%, dari 11.416 kasus pada periode antara 2008 hingga 2012 menjadi 12.600 kasus pada periode antara 2017 hingga 2021. Secara khusus, semakin banyak generasi milenial berusia 28 - 43 tahun pada tahun 2024 yang terdiagnosis kanker. Peningkatan yang mengejutkan ini telah mendorong para ahli gastroenterologi untuk menyelidiki penyebab mendasar di balik melonjaknya kasus kanker usus besar pada usia muda. Saat ini, belum diketahui sepenuhnya apa yang mendorong tren kenaikan ini, karena temuan penelitian yang lebih konklusif masih belum diperoleh. Namun, kami memahami penyebab kanker usus besar, karena penelitian di balik hal ini sudah sangat mapan.
Perkembangan kanker usus besar dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang mencakup gaya hidup, lingkungan, dan predisposisi (kecenderungan) genetik. Perubahan-perubahan ini menyebabkan sel-sel memperbanyak diri secara berlebihan dan tidak terkendali. Ketika sel-sel di usus besar tumbuh dan membelah secara tidak teratur, polip dapat terbentuk, yang mana dapat berkembang menjadi sel kanker jika tidak diangkat.
Salah satu faktor gaya hidup utama yang membuat seseorang lebih rentan terkena kanker usus besar adalah pola makan tidak sehat. Pola makan modern, terutama di daerah perkotaan seperti Singapura, sering kali mencakup asupan makanan dengan karakteristik nutrisi sebagai berikut:

Faktor risiko gaya hidup signifikan lainnya untuk kanker usus besar adalah kurangnya olahraga fisik. Banyak anak muda di Singapura menghabiskan banyak waktu untuk duduk, baik saat di tempat kerja, sekolah, maupun di rumah, dan sering berada di depan layar, seperti menonton TV, bermain video game, atau menggunakan komputer dan smartphone. Kurangnya olahraga dapat menyebabkan obesitas, yang dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena kanker usus besar. Aktivitas fisik bermanfaat untuk mengatur kadar hormon dan meningkatkan fungsi imun tubuh, yang keduanya dapat mengurangi risiko kanker.
Pola makan yang tidak sehat ditambah dengan kurangnya aktivitas fisik biasanya memicu obesitas, yang merupakan faktor risiko penting bagi kanker usus besar. Berat badan berlebih, terutama di area perut, dapat mendorong pertumbuhan sel kanker karena beberapa alasan berikut:
Selain itu, gaya hidup yang penuh tekanan atau stres dapat berkontribusi pada perkembangan kanker usus besar. Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya jelas, stres kronis diyakini berdampak pada risiko kanker melalui beberapa jalur:

Zat karsinogen yang terkandung dalam udara dan makanan yang tercemar dapat memicu mutasi yang menyebabkan perkembangan kanker.
Faktor genetik memegang peranan yang sangat penting dalam risiko perkembangan kanker usus besar. Orang dengan riwayat keluarga penderita kanker kolorektal memiliki risiko yang lebih tinggi. Kondisi turunan tertentu, seperti sindrom Lynch dan familial adenomatous polyposis (FAP), dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker usus besar secara signifikan pada usia yang lebih muda.


Skrining kanker kolorektal adalah instrumen krusial dalam deteksi dini dan pencegahan, dan prosesnya adalah sebagai berikut:
1. Menjalani Pemeriksaan Awal
Kelompok yang berisiko, terutama orang berusia 50 tahun ke atas, biasanya dianjurkan untuk melakukan skrining tahunan dengan mengumpulkan sampel tinja. Mereka dapat memilih antara Guaiac Faecal Occult Blood Test (gFOBT) atau Faecal Immunochemical Test (FIT), yang mana keduanya merupakan tes awal yang dapat mendeteksi adanya kelainan pada saluran cerna.
2. Menjadwalkan Janji Temu dengan Dokter Bedah Kolorektal di Singapura
Pasien dengan hasil tes tinja positif biasanya akan dirujuk ke dokter spesialis kolorektal yang akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan hasil awal tersebut. Dokter spesialis kolorektal adalah dokter medis yang ahli dalam diagnosis dan pengobatan bedah untuk gangguan saluran cerna. Tergantung pada riwayat medis Anda dan sejauh mana hasil positif FOBT, dokter mungkin akan meminta Anda untuk menjalani tes yang lebih sensitif, yaitu kolonoskopi.
3. Ikuti Prosedur Pra-kolonoskopi, Tetap Rileks Selama Kolonoskopi, dan Ikuti Panduan Pasca Kolonoskopi
Untuk mempersiapkan kolonoskopi, Anda harus mematuhi beberapa prosedur pra-kolonoskopi guna memastikan proses yang sukses dan bebas stres.
Selama kolonoskopi, sebuah tabung panjang, fleksibel, dan tipis yang dilengkapi dengan kamera kecil dan lampu (kolonoskop), dimasukkan ke dalam rektum untuk memeriksa polip atau pertumbuhan kanker. Prosedur minimal invasif ini biasanya memakan waktu kurang dari 15 menit dan sering kali dilakukan dengan sedasi (obat penenang) ringan untuk mengurangi rasa tidak nyaman.
Setelah kolonoskopi, Anda perlu beristirahat selama sekitar 1 jam untuk pulih dari efek obat penenang yang dipakai selama prosedur. Tim medis berpengalaman dari Alpine Surgical Practice akan memantau untuk memastikan bahwa Anda sadar dengan aman dan tidak mengalami komplikasi langsung.
Karena polip pra-kanker dan kanker usus besar stadium awal cenderung tidak menunjukkan gejala (asimtomatik), kelompok yang berisiko harus mengikuti skrining rutin meskipun mereka merasa sangat sehat. Mendeteksi kelainan sejak dini biasanya mengarah pada prognosis yang lebih baik, karena tindakan pencegahan, seperti pengangkatan polip, dapat dilakukan.

Terlepas dari manfaatnya yang jelas, orang-orang di usia muda mungkin menghindari skrining karena berbagai hambatan:
Kanker usus besar dapat menyerang individu yang lebih muda maupun orang tua. Meskipun mayoritas pasien kanker usus besar berada dalam rentang usia 55 - 65 tahun, sejumlah besar kasus yang ditemui dokter saat ini melibatkan orang dewasa muda. Sebuah studi tahun 2022 dari Hematology/Oncology Clinics of North America bahkan memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, sekitar 15% kasus kanker usus besar akan terdiagnosis pada orang dewasa yang lebih muda.
Selain itu, pasien muda sering mengalami keterlambatan diagnosis dibandingkan orang yang lebih tua karena kanker ini umumnya dianggap jarang terjadi pada kelompok usia mereka. Pada saat sebagian besar pasien muda terdiagnosis dengan akurat, banyak di antaranya sudah berada pada stadium lanjut (stadium 3 atau 4).
Meskipun kolonoskopi biasanya direkomendasikan untuk pasien dengan risiko rata-rata mulai usia 50 tahun ke atas, Alpine Surgical Practice menyarankan untuk menjadwalkan pemeriksaan jika Anda memiliki:
Menurut American Cancer Society, sebanyak 33% pasien kanker kolorektal memiliki anggota keluarga yang juga pernah menderita penyakit tersebut.
Usia tua hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor risiko perkembangan kanker usus besar. Artinya, mereka yang berusia di bawah 50 tahun tetap rentan terhadap kondisi ini, terutama jika memiliki faktor risiko lain, seperti riwayat keluarga dengan kanker usus besar. Oleh karena itu, kanker usus besar jelas bukan sekadar "penyakit orang tua".
Meningkatnya angka kanker usus besar di kalangan anak muda Singapura menyoroti kebutuhan mendesak akan peningkatan kesadaran dan manajemen kesehatan yang proaktif. Skrining tahunan, seperti yang tersedia di Alpine Surgical Practice, dapat berperan krusial dalam deteksi dini dan pencegahan, yang berpotensi menyelamatkan nyawa. Sangat disarankan bagi setiap individu untuk menjaga gaya hidup sehat dan menjalani pemeriksaan secara rutin guna mengoptimalkan kesehatan usus besar.
Untuk membuat janji skrining kolonoskopi atau konsultasi dengan Dr. Aaron Poh, Konsultan Bedah Umum dan Direktur Medis di Alpine Surgical Practice, silakan hubungi kami. Dr. Poh adalah seorang dokter bedah umum berpengalaman dengan subspesialisasi di bidang bedah kolorektal. Beliau telah melakukan banyak prosedur kolonoskopi, yang membantu pasien mendapatkan kejelasan mengenai kondisi mereka serta memberikan penanganan yang efektif.
Di Alpine Surgical Practice, klinik spesialis kami di Singapura menyediakan paket skrining kolonoskopi dengan komponen sebagai berikut:
Ambil kendali atas kesehatan saluran cerna Anda dengan menjadwalkan skrining sekarang juga.


Hak Cipta © Praktek Bedah Alpine | Ketentuan & Kondisi