Logo

Gastroskopi vs Kolonoskopi di Singapura – Apa Saja Perbedaannya?

Kesehatan sistem pencernaan (gastrointestinal) sangat penting karena mendukung penyerapan nutrisi, fungsi imun tubuh, regulasi hormon, dan bahkan kesejahteraan mental. Namun, banyak orang mengabaikan gejala dari masalah pencernaan, seperti sakit perut menerus, kembung, atau kebiasaan buang air besar yang tidak teratur. Meskipun gejala-gejala ini biasanya tidak berbahaya, mereka bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius. Di Singapura, masalah pencernaan seperti gastritis, refluks asam lambung (GERD), sindrom iritasi usus besar (IBS), dan kanker kolorektal, menjadi semakin umum terjadi [1], terutama pada lansia.

Deteksi dini terhadap masalah pencernaan sangatlah krusial, karena memungkinkan pengobatan tepat waktu yang dapat meredakan gejala dan membantu mencegah perkembangan kondisi serius, seperti kanker kolorektal. Gastroskopi dan kolonoskopi adalah dua prosedur paling umum yang dipakai untuk mendeteksi masalah pencernaan. Meskipun keduanya sama-sama merupakan pemeriksaan endoskopi, masing-masing menyasar bagian sistem pencernaan yang berbeda dan memiliki tujuan diagnostik yang berbeda pula. Memahami perbedaan ini dapat membantu pasien mempersiapkan diri dengan lebih baik dan mengambil keputusan yang tepat terkait gejala yang dialami.

Simak tulisan ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang perbedaan antara gastroskopi dan kolonoskopi serta tujuan dari masing-masing prosedur.

Apa itu Gastroskopi?

Gastroskopi, yang juga disebut sebagai endoskopi bagian atas, adalah prosedur diagnostik yang memeriksa bagian atas saluran pencernaan. Bagian ini mencakup esofagus (kerongkongan), lambung, dan usus dua belas jari (duodenum). Gastroskopi mendiagnosis berbagai kondisi yang memengaruhi bagian tubuh ini, seperti:

  • Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

GERD, atau refluks asam lambung, terjadi ketika cairan asam lambung mengalir naik kembali ke esofagus, sehingga menyebabkan gejala, seperti sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa tidak nyaman pada dada, dan regurgitasi (isi lambung yang naik kembali ke kerongkongan). Seiring waktu, hal ini dapat merusak lapisan esofagus.

  • Tukak Lambung

Luka terbuka yang muncul di lapisan dalam lambung. Luka ini dapat menyebabkan nyeri lambung, kembung, serta pendarahan, dan sering kali dipicu oleh infeksi (seperti bakteri H. pylori) atau penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang. Kondisi ini sering menimbulkan gejala, seperti nyeri perut, gangguan pencernaan, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah.

  • Gastritis Kronis 

Peradangan jangka panjang pada lapisan dinding lambung yang dapat disebabkan oleh infeksi, kondisi autoimun, atau paparan zat iritan yang berkepanjangan. Kondisi ini dapat menyebabkan mual, gangguan pencernaan, dan rasa tidak nyaman pada lambung.

  • Infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori)

Sejenis infeksi bakteri pada lapisan lambung yang menjadi penyebab utama tukak (ulkus) dan gastritis. Kondisi ini biasanya didiagnosis melalui biopsi selama prosedur gastroskopi. Gejalanya meliputi nyeri perut bagian atas, mual, muntah, sering bersendawa, kembung, hilang nafsu makan, atau penurunan berat badan.

  • Kanker Lambung

Kanker lambung (gastrik) pada stadium awal mungkin tidak menunjukkan gejala kasat mata, tetapi dapat dideteksi melalui gastroskopi dengan melihat pertumbuhan jaringan abnormal atau melalui biopsi. Hal ini secara signifikan dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

Apa yang akan Terjadi Selama Gastroskopi?

Selama prosedur gastroskopi, sebuah tabung fleksibel dengan kamera kecil (endoskop) dimasukkan secara perlahan melalui mulut menuju ke tenggorokan. Tabung ini memiliki kamera kecil di ujungnya yang mengirimkan video langsung ke monitor, sehingga dokter dapat mendeteksi kelainan, seperti tukak, peradangan, pendarahan, atau tumor.

Sebelum prosedur dilakukan, pasien biasanya diminta berpuasa selama 6 hingga 8 jam untuk memastikan lambung dalam keadaan kosong. Semprotan anestesi lokal biasanya diberikan untuk membuat tenggorokan mati rasa, dan obat penenang ringan diberikan untuk membantu pasien tetap rileks dan nyaman.

Saat prosedur berlangsung, pasien diminta berbaring miring sementara dokter dengan hati-hati memasukkan endoskop melalui mulut dan tenggorokan menuju lambung. Jika diperlukan, dokter Anda juga dapat mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk pengujian lebih lanjut.

Seluruh proses ini biasanya memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Setelah itu, pasien akan diobservasi hingga efek dari obat penenang menghilang. Beberapa orang mungkin mengalami sakit tenggorokan atau perut kembung ringan, tetapi gejala-gejala ini biasanya cepat mereda. Sebagian besar pasien dapat kembali makan dan minum secara normal dalam beberapa jam dan pulang pada hari yang sama jika tidak ada komplikasi.

Apa itu Kolonoskopi?

Kolonoskopi adalah prosedur medis untuk memeriksa bagian dalam kolon (usus besar) dan rektum. Prosedur ini melibatkan penggunaan tabung panjang dan fleksibel yang disebut kolonoskop, yang dilengkapi dengan kamera dan lampu di ujungnya. Hal ini memungkinkan dokter untuk melihat lapisan dalam usus besar dan mengidentifikasi adanya kelainan, seperti polip, tumor, atau tanda-tanda peradangan.

Tindakan kolonoskopi biasanya dilakukan untuk mendiagnosis atau menyingkirkan kemungkinan berbagai kondisi sistem pencernaan, termasuk:

  • Polip Usus
    Pertumbuhan jaringan abnormal pada lapisan usus yang berpotensi berkembang menjadi sel kanker jika tidak segera ditangani.
  • Kanker Kolorektal
    Kanker yang bermula di usus besar atau rektum dan sering kali didiagnosis melalui identifikasi tumor atau pertumbuhan jaringan abnormal lainnya.
  • Divertikulosis
    Adanya kantong-kantong kecil pada dinding usus, yang dapat mengalami peradangan atau infeksi, sehingga berkembang menjadi divertikulitis.
  • Penyakit Radang Usus (IBD) 
    Sekelompok kondisi peradangan yang memengaruhi usus besar dan usus halus, dengan penyakit Crohn dan kolitis ulseratif sebagai jenis yang paling umum.
  • Pendarahan
    Kolonoskopi dapat mengidentifikasi sumber pendarahan gastrointestinal yang mungkin disebabkan oleh tukak, ambeien (wasir), atau masalah kesehatan lainnya.

Apa yang Terjadi selama Prosedur Kolonoskopi?

Selama prosedur kolonoskopi, pasien akan diminta untuk berbaring miring, lalu kolonoskop dimasukkan secara perlahan melalui rektum dan diarahkan menuju usus besar. Pasien akan berada di bawah pengaruh bius ringan untuk memastikan kenyamanan selama prosedur berlangsung. Kamera di ujung kolonoskop mengirimkan gambar langsung ke monitor, yang memungkinkan dokter untuk memeriksa usus besar secara teliti. Jika diperlukan, dokter dapat mengambil sampel atau mengangkat polip untuk pemeriksaan lebih lanjut. Seluruh prosedur ini biasanya memakan waktu antara 30 hingga 60 menit.

Persiapan kolonoskopi merupakan aspek penting dari prosedur ini untuk memastikan hasil yang terbaik. Beberapa hari sebelum prosedur, Anda akan diinstruksikan untuk menjalani diet khusus yang utamanya terdiri dari konsumsi cairan bening dan menghindari makanan padat. Anda juga perlu minum obat pencahar sehari sebelumnya untuk mengosongkan usus besar secara menyeluruh. Pada hari prosedur dilakukan, Anda akan diminta untuk berpuasa dan tidak makan atau minum selama beberapa jam. Hal ini untuk membantu memastikan usus besar dalam keadaan bersih sehingga memberikan visualisasi terbaik bagi dokter selama pemeriksaan.

Perbedaan Utama antara Gastroskopi dan Kolonoskopi

Gastroskopi dan kolonoskopi keduanya merupakan prosedur penting untuk mendiagnosis kondisi sistem pencernaan, tetapi keduanya berfokus pada bagian yang berbeda dan dipakai untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang berbeda pula. Memahami perbedaan antara kedua prosedur ini dapat membantu pasien mengambil keputusan yang tepat mengenai prosedur mana yang sesuai bagi gejala yang mereka alami.

Berikut adalah perbedaan utama antara kedua prosedur tersebut:

  • Area Target 
    Gastroskopi berfokus pada saluran pencernaan bagian atas, yang meliputi esofagus, lambung, dan usus dua belas jari (duodenum). Di sisi lain, kolonoskopi menargetkan saluran pencernaan bagian bawah, khususnya usus besar dan rektum.
  • Persiapan Sebelum Prosedur
    Persiapan untuk kedua prosedur ini berbeda secara signifikan. Untuk gastroskopi, pasien biasanya hanya perlu berpuasa selama 6-8 jam sebelum prosedur untuk memastikan lambung dalam keadaan kosong. Sebaliknya, persiapan untuk kolonoskopi memerlukan lebih banyak tahapan, termasuk menjalani diet cairan bening selama beberapa hari sebelum prosedur dan meminum obat pencahar untuk mengosongkan usus besar secara menyeluruh.
  • Dipakai untuk Mendiagnosis dan Menangani Penyakit yang Berbeda
    Gastroskopi umumnya dipakai untuk mendiagnosis dan menangani kondisi yang memengaruhi saluran pencernaan bagian atas, seperti refluks asam lambung (GERD), tukak lambung, gastritis kronis, dan dalam beberapa kasus, kanker lambung stadium awal. Namun, kolonoskopi digunakan untuk memeriksa saluran pencernaan bagian bawah untuk beberapa kondisi, seperti polip usus, kanker kolorektal, penyakit radang usus (IBD), serta untuk menyelidiki penyebab pendarahan gastrointestinal atau perubahan kebiasaan buang air besar yang terus-menerus.
  • Durasi prosedur dan waktu pemulihan
    Gastroskopi biasanya memakan waktu sekitar 10-20 menit, dan pemulihannya relatif cepat. Sebagian besar pasien hanya mengalami rasa tidak nyaman yang ringan, seperti sakit tenggorokan atau kembung, yang biasanya segera mereda setelah prosedur. Sebagai perbandingan, kolonoskopi memakan waktu sedikit lebih lama, biasanya antara 30-60 menit, dengan periode pemulihan yang lebih lama. Setelah prosedur, beberapa orang mungkin mengalami perut begah atau kembung. Pasien juga mungkin merasa mengantuk dan memerlukan lebih banyak waktu untuk pulih sepenuhnya dari efek obat penenang.

Kapan Anda Memerlukan Masing-Masing Prosedur Tersebut?

Mengetahui kapan harus menjalani gastroskopi atau kolonoskopi sangat penting untuk diagnosis dini dan pengobatan yang efektif bagi kondisi saluran pencernaan. Meskipun hanya dokter atau spesialis gastroenterologi yang dapat menentukan apakah Anda memerlukan salah satu dari prosedur ini, memahami gejala utama dan faktor risiko yang terkait dengan setiap prosedur dapat membantu Anda mengambil langkah selanjutnya, seperti membuat janji temu jika diperlukan.

Gejala yang mungkin memerlukan gastroskopi:

Gastroskopi biasanya direkomendasikan jika Anda mengalami gejala yang berkaitan dengan saluran pencernaan bagian atas, seperti:

  • Heartburn kronis (dada panas) atau GERD yang tidak kunjung membaik dengan obat-obatan.
  • Mual atau muntah yang terus-menerus.
  • Sulit menelan atau merasa seolah-olah ada makanan yang tersangkut di tenggorokan.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab.
  • Nyeri perut bagian atas yang tidak kunjung membaik.
  • Adanya darah pada muntah atau tinja berwarna hitam, yang mungkin mengindikasikan pendarahan internal.
  • Perut kembung kronis atau gangguan pencernaan.
  • Tanda-tanda potensial kanker lambung atau adanya riwayat penyakit tersebut dalam keluarga.

Gejala yang mungkin memerlukan kolonoskopi:

Kolonoskopi umumnya direkomendasikan untuk gejala-gejala yang memengaruhi saluran pencernaan bagian bawah, seperti:

  • Diare atau sembelit kronis.
  • Adanya darah pada tinja atau pendarahan pada rektum.
  • Nyeri perut atau kram terus-menerus.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Anemia defisiensi zat besi.
  • Perubahan kebiasaan buang air besar, seperti sembelit atau diare yang berkepanjangan.
  • Skrining kanker usus, terutama jika Anda memiliki riwayat keluarga atau termasuk dalam kelompok berisiko tinggi.

Kondisi yang Sudah Ada Sebelumnya

Jika Anda sudah mengalami beberapa kondisi, seperti GERD, tukak lambung, atau radang usus (IBD), dokter Anda mungkin akan merekomendasikan gastroskopi atau kolonoskopi berdasarkan gejala atau untuk memantau perkembangan kondisi tersebut. Sebagai contoh, kolonoskopi sering dipakai untuk manajemen berkelanjutan pada penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.

Faktor Risiko

Faktor risiko tertentu dapat meningkatkan kemungkinan Anda memerlukan salah satu dari prosedur tersebut. Mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker usus, kanker lambung, atau radang usus, sering kali disarankan untuk menjalani skrining. Jika Anda berusia di atas 50 tahun, kolonoskopi rutin sangat direkomendasikan, meskipun Anda tidak mengalami gejala, untuk mendeteksi kanker kolorektal sejak dini. Untuk gastroskopi, faktor risiko, seperti konsumsi alkohol yang tinggi, merokok, atau penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, juga dapat meningkatkan kebutuhan akan pemeriksaan saluran pencernaan bagian atas.

Panduan Skrining di Singapura

Di Singapura, skrining kanker kolorektal direkomendasikan bagi individu berusia 50 tahun ke atas yang memiliki risiko rata-rata. Ministry of Health (Kementerian Kesehatan Singapura) menyarankan [2] skrining kolonoskopi rutin setiap 10 tahun sekali bagi kelompok usia ini. Jika Anda memiliki faktor risiko yang lebih tinggi, seperti riwayat keluarga dengan kanker kolorektal, skrining mungkin dimulai lebih awal atau dilakukan lebih sering. Gastroskopi bukan merupakan bagian dari panduan skrining standar, tetapi dapat direkomendasikan berdasarkan gejala atau riwayat kanker lambung dalam keluarga.

Memahami panduan dan gejala-gejala ini akan membantu Anda mengetahui kapan harus berkonsultasi dengan dokter untuk salah satu prosedur tersebut, guna memastikan diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu. Dalam beberapa kasus, gastroskopi dan kolonoskopi dapat dilakukan bersamaan, tergantung rekomendasi dokter. Pendekatan ini bisa sangat bermanfaat bagi pasien dengan gejala yang melibatkan saluran pencernaan bagian atas dan bawah sekaligus, karena mengurangi kebutuhan untuk janji temu berulang dan memberikan pemeriksaan yang lebih komprehensif dalam satu kali sesi.

Jika Anda mengalami gejala saluran cerna atau memerlukan skrining, jangan menundanya. Di Alpine Surgical, dokter spesialis berpengalaman kami siap memandu Anda melalui proses gastroskopi atau kolonoskopi, sambil menyusun rencana perawatan yang dipersonalisasi sesuai dengan hasil prosedur tersebut. Kami juga menawarkan paket skrining untuk membantu mendeteksi kondisi sistem pencernaan, seperti kanker kolorektal dan gastritis, lebih dini. Hubungi kami sekarang untuk menjadwalkan konsultasi.

Apa saja Ekspektasi Pasca Prosedur?

Setelah menjalani gastroskopi, sebagian besar pasien dapat kembali beraktivitas normal dalam beberapa jam, meskipun beberapa ketidaknyamanan ringan, seperti sakit tenggorokan atau kembung, mungkin masih terasa untuk sementara waktu. Untuk kolonoskopi, waktu pemulihan mungkin sedikit lebih lama, di mana pasien berpotensi mengalami kram ringan atau perut kembung. Sangat penting untuk mengikuti instruksi perawatan pasca tindakan dari dokter Anda guna memastikan pemulihan yang lancar.

Kedua prosedur ini umumnya aman, tetapi seperti halnya prosedur medis lainnya, terdapat risiko tertentu. Komplikasi potensial, meskipun jarang terjadi, bisa meliputi pendarahan dan infeksi. Jika Anda mengalami gejala yang tidak biasa setelah prosedur ini, seperti nyeri hebat, demam, atau pendarahan secara terus-menerus, penting untuk segera menghubungi dokter.

Dokter akan mendiskusikan hasilnya dengan Anda setelah prosedur selesai. Dalam beberapa kasus, pengobatan lanjutan mungkin diperlukan tergantung pada hasil temuan. Sebagai contoh, jika polip ditemukan selama kolonoskopi, polip tersebut dapat diangkat dan dibawa ke laboratorium untuk biopsi. Dokter Anda juga akan merekomendasikan perawatan lanjutan untuk memastikan bahwa kondisi Anda dikelola dan dipantau dengan tepat seiring berjalannya waktu.

Berapa Biaya Prosedur Ini di Singapura?

Biaya prosedur gastroskopi dan kolonoskopi di Singapura dapat bervariasi berdasarkan beberapa faktor, seperti dokter yang menangani dan jenis spesifik prosedurnya. Biasanya, biaya berkisar antara SGD 800 hingga SGD 2.500 untuk gastroskopi, dan SGD 1.200 hingga SGD 3.000 untuk kolonoskopi. Harap diperhatikan bahwa tes atau perawatan tambahan dapat menambah biaya secara keseluruhan.

Bagi warga negara Singapura dan permanent resident (tinggal tetap), Medisave dapat membantu menanggung sebagian biaya untuk kedua prosedur tersebut. Asuransi swasta juga dapat membantu mengurangi pengeluaran, tetapi sejauh mana cakupannya akan bervariasi tergantung pada kebijakan tiap penyedia jasa asuransi. Disarankan untuk menghubungi perusahaan asuransi Anda sebelumnya untuk memahami batas cakupan pertanggungannya.

Memilih Dokter Spesialis atau Klinik yang Tepat di Singapura

Saat memilih dokter spesialis atau klinik gastroenterologi untuk prosedur gastroskopi atau kolonoskopi Anda, ada beberapa faktor utama yang perlu dipertimbangkan. Pertama, pastikan dokter spesialis tersebut memiliki kualifikasi dan pengalaman yang sesuai. Carilah dokter dengan kredensial yang diakui dan pengalaman yang signifikan dalam melakukan prosedur gastrointestinal. Fasilitas yang nyaman juga berkontribusi pada pengalaman pengobatan yang positif.

Setelah Anda menjadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi, pertimbangkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting, seperti:

  • Bagaimana pengalaman Anda dalam melakukan gastroskopi/kolonoskopi?
  • Apakah ada risiko atau komplikasi yang harus saya waspadai?
  • Berapa lama proses pemulihannya?
  • Kapan saya bisa menerima hasilnya?

Kesimpulan

Memahami perbedaan utama antara gastroskopi dan kolonoskopi dapat membantu Anda mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan sistem pencernaan. Deteksi dini dan skrining rutin sangat penting untuk mencegah kondisi serius, seperti kanker. Beberapa gejala, seperti nyeri perut, kembung, muntah, gangguan pencernaan, dan gejala saluran cerna lainnya, bisa sangat melemahkan dan memengaruhi kualitas hidup Anda.

Jika Anda mengalami gejala atau berisiko terkena penyakit saluran cerna, penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi dan menjalani gastroskopi atau kolonoskopi untuk mengetahui akar penyebabnya. Prosedur-prosedur ini dapat membantu mengidentifikasi kondisi yang mendasari, meredakan rasa tidak nyaman, memberikan ketenangan pikiran, dan mencegah perkembangan masalah kesehatan yang lebih serius, sekaligus memastikan sistem pencernaan Anda tetap dalam kondisi baik.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah prosedur gastroskopi dan kolonoskopi menimbulkan rasa sakit?

Kedua prosedur ini biasanya tidak menyakitkan karena obat penenang biasanya digunakan agar pasien tetap merasa nyaman. Anda mungkin merasakan efek samping, seperti kembung ringan atau kram setelahnya, tetapi rasa sakit yang hebat jarang terjadi.

Berapa lama saya boleh kembali makan setelah menjalani endoskopi atau kolonoskopi?

Anda seharusnya sudah bisa makan seperti biasa dalam waktu 24 jam, tetapi pastikan berkonsultasi dengan dokter Anda untuk mendapatkan instruksi yang lebih spesifik.

Apakah endoskopi dapat mengangkat tumor?

Banyak orang menghindari kolonoskopi karena takut akan rasa tidak nyaman, merasa malu, atau khawatir tentang persiapan pembersihan usus. Namun, teknik yang modern membuat prosedur ini aman, cepat, dan biasanya tidak menyakitkan.

Referensi:

  1. Siah, K. T., Wong, R. K., Chan, Y. H., Ho, K. Y., & Gwee, K. A. (2016). Prevalence of Irritable Bowel Syndrome in Singapore and Its Association with Dietary, Lifestyle, and Environmental Factors. Journal of neurogastroenterology and motility, 22(4), 670–676. Retrieved from: https://doi.org/10.5056/jnm15148 
  2. Ministry of Health Singapore. (n.d.). Colorectal cancer screening. Retrieved from https://www.moh.gov.sg/newsroom/crc-screening 
Whatsapp Pertanyaan
Apa yang bisa kami bantu?

Kami menawarkan rangkaian konsultasi komprehensif untuk semua masalah Bedah Umum dan Perut.

Beri tahu kami bagaimana kami dapat membantu Anda.
Hubungi Kami

Dr Aaron Poh

MBBS (Singapore), MRCS (Edinburgh), FRCS (Edinburgh), Master of Medicine (Surgery)

Perawatan Komprehensif terhadap Kolorektal, dari Pemeriksaan hingga Operasi.

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Aaron Poh.
Dr. Aaron Poh adalah seorang Dokter Spesialis Bedah Kolorektal dan Bedah Umum dengan pengalaman yang luas dalam bidang operasi minimal invasif (operasi lubang kunci). Beliau melakukan berbagai macam prosedur bedah, termasuk gastroskopi, kolonoskopi, dan perawatan endoskopi canggih, seperti pengangkatan polip kompleks dengan EMR dan pemasangan stent usus besar. Keahlian beliau dalam bidang pembedahan mencakup operasi kanker kolorektal, perbaikan hernia, pengangkatan kantung empedu, serta perawatan yang telah terbukti untuk menangani wasir dan kondisi anus lainnya.

Dr Aaron Poh

MBBS (Singapore), MRCS (Edinburgh), FRCS (Edinburgh), Master of Medicine (Surgery)

Hak Cipta © Praktek Bedah Alpine | Ketentuan & Kondisi

cross