Dari Screen Time ke Skrining Time: Menanggapi Lonjakan Kasus Kanker Usus di Kalangan Dewasa Muda Singapura
Kanker usus besar (kolon) kini muncul sebagai krisis kesehatan yang kritis di Singapura dan sangat nyata terlihat pada meningkatnya kasus penyakit ini di seluruh dunia [1]. Kanker jenis ini, yang berkembang di usus besar atau rektum, dikenal sangat tersembunyi, karena sering kali tidak menunjukkan gejala apa pun hingga mencapai stadium yang lebih parah. Akibatnya, kondisi ini, yang sebenarnya sangat mungkin untuk diobati jika ditemukan lebih awal, menjadi lebih sulit untuk ditangani di kemudian hari.
Situasi ini sangat mengkhawatirkan di Asia, di mana perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan tampaknya bersinggungan dengan predisposisi genetik yang secara signifikan memengaruhi tingkat kanker usus besar. Singapura, misalnya, telah mengalami lonjakan tajam dalam kasus kanker usus besar [2]. Berdasarkan statistik dari National Cancer Centre Singapore [3], jumlah pasien kanker usus besar terus meningkat secara stabil, menjadikannya salah satu jenis kanker yang paling umum di negara tersebut. Tren ini juga tercermin di negara-negara tetangga, yang menunjukkan adanya pergeseran kesehatan regional yang lebih luas dan memerlukan perhatian segera.
Meningkatnya jumlah kasus kanker usus besar di Singapura bukan sekadar statistik belaka. Hal ini menandakan adanya kebutuhan mendesak untuk menyelidiki penyebab mendasar dari tren ini. Berbagai faktor, seperti peningkatan urbanisasi, adopsi pola makan ala Barat, dan perubahan gaya hidup karena stres, turut berkontribusi terhadap kenaikan jumlah kasusnya. Dalam ulasan ini, kami bermaksud untuk menganalisis tren yang berkontribusi pada peningkatan kasus kanker usus besar serta mengupas strategi pencegahan yang efektif. Tujuan kami adalah untuk meningkatkan kesadaran mengenai kanker usus besar di Singapura dan membekali setiap individu dengan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk mengambil langkah nyata dalam mencegah kanker usus besar.
Kanker usus besar bermula di kolon atau rektum, yang merupakan bagian dari usus besar, dan ditandai dengan pertumbuhan sel tumor pada lapisan dalam organ-organ tersebut.
Apa itu Kanker Usus Besar, dan Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Tubuh?
Kanker usus besar, yang juga dikenal sebagai kanker kolorektal, adalah jenis kanker yang bermula di kolon atau rektum, yang merupakan komponen utama dari sistem pencernaan. Kolon, yang juga dikenal sebagai usus besar, menyerap air dan nutrisi dari makanan yang telah dicerna dan membentuk limbah padat (tinja). Rektum, yang merupakan bagian akhir dari usus besar, menyimpan tinja tersebut hingga dikeluarkan dari tubuh.
Bentuk kanker ini biasanya berawal dari gumpalan sel kecil yang jinak bernama polip, yang terbentuk pada lapisan dalam usus besar atau rektum. Seiring waktu, beberapa dari polip ini dapat berkembang menjadi sel kanker. Perkembangan dari polip jinak menjadi kanker dapat memakan waktu bertahun-tahun. Itulah sebabnya, skrining dan deteksi dini [4] sangat penting dalam mencegah dan mengobati kanker usus besar secara efektif.
Bagian tubuh yang sering terdampak oleh kanker usus besar adalah:
Rektum: Terletak di ujung usus besar, rektum merupakan lokasi yang umum bagi sel kanker untuk berkembang, terutama pada bagian bawahnya.
Memahami stadium kanker usus besar sangat penting untuk menentukan pengobatan dan prognosis. Stadium kanker usus besar dapat dikategorikan sebagai berikut:
Stadium 0: juga dikenal sebagai carcinoma in situ, sel kanker berada pada tahap yang sangat dini, di mana sel kanker belum tumbuh melampaui lapisan dalam kolon atau rektum.
Stadium I: sel kanker telah tumbuh ke lapisan jaringan berikutnya tetapi belum mencapai dinding luar kolon atau rektum atau menyebar ke luar kolon.
Stadium II: sel kanker telah menyebar melalui lapisan otot kolon atau rektum, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya.
Stadium III: sel kanker telah menginvasi kelenjar getah bening di sekitarnya, tetapi tidak memengaruhi bagian tubuh lainnya.
Stadium IV: sel kanker telah bermetastasis ke organ yang jauh, seperti hati atau paru-paru.
Setiap stadium kanker usus besar tidak hanya menunjukkan tingkat keparahan penyakit dan menjadi panduan strategi pengobatan, tetapi juga berdampak pada prognosis. Deteksi dini meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan secara signifikan [5], yang menekankan pentingnya skrining rutin, terutama bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun atau yang memiliki faktor risiko penyakit tersebut.
Stadium kanker usus besar berkisar dari Stadium 0, yang mengindikasikan cancer in situ, hingga Stadium IV, di mana sel kanker telah menyebar ke organ jauh.
Mengapa Angka Kasus Kanker Usus Besar Semakin Meningkat di Singapura?
Kasus kanker usus besar di Singapura dan di seluruh dunia telah meningkat, yang menghadirkan kekhawatiran terkait kesehatan masyarakat. Peningkatan ini terlihat jelas di berbagai kelompok usia dan wilayah geografis, yang mendorong perlunya pemeriksaan lebih mendalam terhadap penyebab mendasar dan faktor risiko yang berkontribusi pada tren ini.
Data terbaru [6] menunjukkan bahwa kanker usus besar bukan lagi penyakit yang secara dominan menyerang para lansia. Semakin banyak orang yang berusia di bawah 50 tahun didiagnosis dengan kondisi ini, sebuah kelompok yang sebelumnya dianggap berisiko rendah. Variasi geografis [7] juga menunjukkan bahwa kasus kanker usus besar yang lebih tinggi ditemukan di wilayah-wilayah maju, seperti Amerika Utara, Eropa, dan sebagian Asia, termasuk Singapura. Wilayah-wilayah ini telah mengalami kenaikan kasus yang stabil selama beberapa dekade terakhir.
Perbandingan data historis semakin mempertegas tren kenaikan ini. Sebagai contoh, selama 20 tahun terakhir, di Amerika Serikat saja, angka kanker usus besar pada dewasa muda telah meningkat lebih dari 2% per tahun [8]. Demikian pula, negara-negara lain [9], seperti Jepang dan Korea Selatan, yang secara tradisional memiliki angka kasus lebih rendah, telah menunjukkan peningkatan yang pesat, yang kini semakin mendekati angka di negara-negara Barat.
Studi [10] menunjukkan bahwa kenaikan ini mungkin dikaitkan dengan kombinasi berbagai faktor, termasuk kebiasaan makan, gaya hidup sedentari (kurang gerak) yang meningkat, dan pengaruh lingkungan. Westernisasi pola makan [11] di seluruh dunia, yang ditandai dengan tingginya konsumsi daging merah dan daging olahan, gula rafinasi, serta lemak, disertai dengan rendahnya asupan serat, telah dikaitkan erat dengan risiko kanker usus besar yang lebih tinggi. Urbanisasi juga telah menyebabkan gaya hidup yang lebih sedentari [12], yang semakin meningkatkan risiko tersebut.
Faktor risiko utama untuk terkena kanker usus besar di Singapura meliputi:
Usia: Meskipun secara tradisional lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, meningkatnya kasus pada kelompok usia yang lebih muda sangat mengkhawatirkan.
Genetik: Riwayat keluarga [13] penderita kanker usus besar dapat meningkatkan risiko secara signifikan.
Pola Makan: Pola makan [14] tinggi daging merah dan makanan olahan, serta rendah asupan buah-buahan, sayuran, dan serat, telah dikaitkan dengan angka kasus kanker usus besar yang lebih tinggi.
Obesitas: Kelebihan berat badan [16] atau obesitas meningkatkan kemungkinan terkena kanker usus besar.
Kontribusi Gaya Hidup Modern: Pergeseran ke arah pekerjaan yang lebih banyak duduk, kurangnya aktivitas fisik [17], dan pilihan pola makan yang buruk, telah berkontribusi secara signifikan terhadap lonjakan tingkat kanker usus besar. Pola makan modern sering kali kekurangan nutrisi esensial dan serat yang membantu melindungi tubuh dari kanker usus besar.
Gaya hidup sedentari (kurang gerak), yang diikuti dengan pola makan tinggi lemak dan rendah serat, telah dikaitkan dengan kanker usus besar.
Apa saja Tanda-Tanda Awal dari Kanker Usus Besar?
Mengidentifikasi tanda-tanda awal kanker usus besar sangat penting untuk intervensi tepat waktu, yang secara signifikan dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan kelangsungan hidup. Kanker usus besar sering kali bermula secara diam-diam tanpa gejala, tetapi seiring perkembangannya, beberapa indikator utama dapat menandakan keberadaan penyakit ini. Gejala awal kanker usus besar bisa sangat halus dan mudah disalahartikan sebagai masalah kesehatan lain yang kurang serius, sehingga skrining rutin dan kesadaran akan tanda-tanda ini menjadi sangat vital. Gejala umum kanker usus besar meliputi:
Perubahan kebiasaan buang air besar: Perubahan mendadak, seperti sembelit, diare, atau perubahan konsistensi tinja, yang berlangsung selama lebih dari beberapa hari dapat menjadi tanda awal kanker usus besar.
Pendarahan pada rektum atau darah pada tinja: Munculnya darah berwarna merah terang atau sangat gelap pada tinja adalah salah satu tanda kanker usus besar yang paling nyata.
Ketidaknyamanan perut secara terus-menerus: Ketidaknyamanan perut, seperti kram, gas, atau nyeri yang tidak kunjung hilang, mungkin mengindikasikan adanya tumor.
Sensasi buang air besar yang tidak tuntas: Perasaan bahwa usus tidak kosong sepenuhnya setelah buang air besar juga bisa menjadi tanda peringatan kanker usus besar.
Kelemahan atau kelelahan: Kelemahan atau kelelahan yang tidak dapat dijelaskan dapat terjadi jika kanker menyebabkan kehilangan darah, yang memicu anemia.
Penurunan berat badan tanpa disengaja: Kehilangan berat badan tanpa adanya perubahan pola makan atau kebiasaan olahraga sering kali merupakan tanda kanker, karena tubuh dan nafsu makan terdampak oleh tuntutan metabolik penyakit tersebut.
Pendarahan pada rektum bisa menjadi tanda kanker usus besar jika terjadi secara terus menerus.
Apakah Kanker Usus Besar bisa Disembuhkan?
Kemungkinan untuk menyembuhkan kanker usus besar sangat bergantung pada stadium saat kanker tersebut terdeteksi dan diobati. Deteksi dini dan intervensi yang cepat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan. Hal ini menekankan pentingnya skrining rutin dan kesadaran terhadap gejala-gejalanya.
Stadium awal (I dan II): pada stadium ini, kanker usus besar sering kali masih terlokalisasi pada lapisan usus besar atau baru saja mulai menembus dinding usus. Pengangkatan bagian usus besar yang terkena kanker melalui operasi, yang dikenal sebagai kolektomi, biasanya sangat efektif. Tingkat kesembuhan relatif tinggi jika kanker dideteksi dan diobati pada stadium ini. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun [18] untuk kanker usus besar stadium I dapat melebihi 90%, sementara stadium II memiliki tingkat kelangsungan hidup sekitar 85%-89% [19], tergantung pada sejauh mana penyebarannya di dalam dinding usus.
Stadium III: pada stadium ini, kanker usus besar telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, tetapi belum ke lokasi yang jauh. Pengobatan sering kali melibatkan operasi yang diikuti dengan kemoterapi adjuvan untuk membunuh sel kanker yang tersisa dan mengurangi risiko kekambuhan. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk kanker usus besar stadium III adalah sekitar 65% [20], yang sekali lagi bergantung pada tingkat penyebaran dan responsnya terhadap pengobatan.
Stadium IV: ini adalah stadium yang paling lanjut, di mana sel kanker telah menyebar ke organ yang jauh, seperti hati, paru-paru, atau organ tubuh lainnya. Tingkat kesembuhan pada tahap ini lebih rendah karena sel kanker lebih sulit untuk sepenuhnya dihilangkan.
Kunci untuk menyembuhkan kanker usus besar terletak pada deteksi dini melalui skrining. Prosedur perawatan, seperti kolonoskopi, tidak hanya mendeteksi kanker pada stadium paling awal yang paling mudah diobati, tetapi juga dapat mencegah kanker dengan memungkinkan pengangkatan polip sebelum berkembang menjadi sel kanker. Bagi individu dengan risiko rata-rata, skrining harus dimulai pada usia 45 tahun. Mereka yang memiliki faktor risiko tambahan, seperti riwayat keluarga dengan kanker usus besar atau predisposisi genetik, mungkin perlu memulai skrining kanker usus besar lebih awal.
Bagaimana Cara Mencegah Kanker Usus Besar di Singapura?
Kanker usus besar adalah tantangan kesehatan yang berat, tetapi sekaligus merupakan salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah. Kombinasi dari modifikasi pola makan dan gaya hidup, skrining rutin, serta kemajuan dalam pilihan pengobatan, dapat secara signifikan mengurangi risiko dan meningkatkan hasil kesembuhan.
Pola Makan: Pilihan pola makan berperan penting dalam pencegahan kanker usus besar. Pola makan tinggi serat [21] yang kaya akan buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh, dikaitkan dengan penurunan risiko terkena penyakit ini. Sebaliknya, pola makan tinggi daging merah dan daging olahan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko. Membatasi konsumsi alkohol dan menghindari tembakau juga berkontribusi pada risiko kanker yang lebih rendah.
Aktivitas Fisik: Rutin melakukan aktivitas fisik yang teratur adalah langkah efektif lainnya. Melakukan olahraga intensitas sedang hingga berat setidaknya selama 150 menit per minggu telah terbukti [22] secara signifikan menurunkan kemungkinan terkena kanker usus besar. Olahraga membantu mengurangi peradangan, mengatur hormon, dan meningkatkan kesehatan usus, yang semuanya berperan dalam pencegahan kanker.
Manajemen Berat Badan: Menjaga berat badan yang sehat sangatlah penting. Obesitas [23] dapat meningkatkan risiko kanker usus besar, terutama pada pria. Upaya untuk mengelola berat badan melalui diet dan olahraga juga dapat membantu mengurangi risiko ini.
Skrining dan Pemeriksaan Medis Rutin: Skrining [24] adalah alat yang paling ampuh untuk mencegah kanker usus besar atau mendeteksinya pada tahap paling awal, saat sel kanker paling mudah diobati. Kolonoskopi, secara khusus, dapat mendeteksi polip prakanker, yang dapat diangkat sebelum berubah menjadi ganas. Selain kolonoskopi, tes skrining lain, seperti pemeriksaan feses, juga tersedia dan dapat dilakukan lebih sering. Pemeriksaan medis rutin juga membantu mengelola faktor risiko lainnya, seperti diabetes dan kolesterol tinggi, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi risiko kanker usus besar.
Pola makan tinggi serat membantu mengurangi risiko kanker usus besar karena dapat mendukung kelancaran buang air besar dan meningkatkan kesehatan usus.
Bagaimana Kemajuan Teknologi Terbaru Meningkatkan Pengobatan untuk Kanker Usus Besar?
Pengobatan kanker usus besar telah berkembang secara signifikan, dengan beberapa pilihan mutakhir yang kini tersedia untuk meningkatkan hasil kesembuhan dan menawarkan harapan hidup, bahkan pada stadium yang lebih lanjut. Pilihan pengobatan biasanya bergantung pada stadium kanker, kesehatan pasien secara keseluruhan, serta karakteristik spesifik dari sel kanker tersebut. Berikut adalah ikhtisar dari pilar utama pengobatan kanker usus besar saat ini:
Operasi
Operasi adalah pengobatan yang paling umum untuk kanker usus besar yang masih terlokalisasi, dan metodenya dapat bervariasi, mulai dari teknik minimal invasif hingga reseksi (pengangkatan) yang lebih luas:
Polipektomi: Ini adalah prosedur yang digunakan selama kolonoskopi untuk mengangkat polip sebelum berpotensi berubah menjadi kanker.
Eksisi Lokal: Jika ukuran kanker sangat kecil dan terletak di permukaan, terkadang ia dapat diangkat tanpa harus membuat sayatan pada dinding perut.
Kolektomi Parsial: Mengangkat bagian usus besar yang terkena kanker beserta margin jaringan normal di kedua sisinya. Prosedur ini sering kali dapat dilakukan secara laparoskopi dengan menggunakan sayatan kecil.
Kemoterapi
Kemoterapi dipakai untuk membunuh sel-sel kanker dan biasanya diterapkan ketika kanker telah menyebar melampaui lokasi tumor asal atau untuk mengurangi risiko kekambuhan:
Kemoterapi Adjuvan: Kemoterapi adjuvan digunakan setelah operasi untuk memusnahkan sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa. Terapi ini dapat mencegah kanker kambuh kembali.
Kemoterapi Neoadjuvan: Kemoterapi neoadjuvan diberikan sebelum operasi untuk mengecilkan ukuran tumor, sehingga tumor lebih mudah diangkat dan terkadang memungkinkan pembedahan yang tidak terlalu ekstensif.
Terapi Radiasi
Terapi radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menargetkan dan membunuh sel-sel kanker. Meskipun lebih sering diaplikasikan pada kanker rektum, terapi ini terkadang digunakan juga pada kanker usus besar untuk mengecilkan tumor sebelum operasi atau untuk meredakan gejala pada kanker stadium lanjut.
Terapi Target
Terapi target berfokus pada kelainan spesifik di dalam sel kanker. Dengan memblokir kelainan ini, obat-obatan dapat membuat sel kanker mati. Beberapa jenis terapi target untuk kanker usus besar meliputi:
Obat Anti-angiogenesis: Obat anti-angiogenesis [25] menghentikan tumor dalam membentuk pembuluh darah baru, sehingga memutus pasokan nutrisi yang dibutuhkan sel tumor untuk tumbuh.
EGFR Inhibitor: Obat reseptor faktor pertumbuhan epidermal, atau epidermal growth factor reception (EGFR) [26], membantu memblokir pertumbuhan sel-sel baru. Obat ini sangat efektif untuk melawan kanker usus besar yang mengeluarkan protein EGFR.
Imunoterapi
Imunoterapi adalah jenis pengobatan yang menggunakan sistem imun tubuh untuk melawan kanker. Terapi ini sangat efektif pada pasien yang tumornya memiliki penanda genetik spesifik, seperti instabilitas mikrosatelit tinggi (high microsatellite instability/MSI-H) atau defisiensi perbaikan ketidakcocokan (mismatch repair deficiency/dMMR):
Checkpoint Inhibitor: Checkpoint inhibitor [27] membantu sistem imun tubuh mengenali dan menyerang sel kanker. Terapi ini telah menjadi terobosan signifikan dalam mengobati kanker usus besar stadium lanjut di Singapura.
Obat-obatan Presisi
Pengobatan presisi [28] menyesuaikan perawatan dengan karakteristik sel kanker setiap pasien berdasarkan genetika, biomarker, dan tes diagnostik lainnya. Hal ini memungkinkan dokter untuk memilih pengobatan yang paling tepat berdasarkan pemahaman genetik terhadap penyakit pasien.
Pengobatan ini, baik yang dipakai secara tunggal maupun kombinasi, menawarkan pendekatan komprehensif yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, yang tidak hanya bertujuan untuk mengobati kanker tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien selama dan setelah masa pengobatan. Kemajuan berkelanjutan dalam penelitian medis terus meningkatkan strategi pengobatan ini, sehingga menawarkan harapan baru bagi pasien yang menghadapi kanker usus besar.
Kesimpulan
Meningkatnya angka kasus kanker usus besar secara global, yang terutama terlihat di wilayah seperti Asia dan pada kelompok usia yang lebih muda, menekankan pentingnya kesadaran, deteksi dini, dan langkah-langkah pencegahan yang proaktif.
Dengan memahami faktor risiko, mengenali gejala awal, dan memanfaatkan kemajuan terbaru dalam pengobatan, setiap individu dapat secara signifikan memperbesar peluang mereka untuk mencegah atau berhasil menangani kanker usus besar.
Sangat penting untuk menjaga gaya hidup sehat, melakukan skrining rutin, dan tetap mendapatkan informasi mengenai perkembangan dalam perawatan kanker guna melawan penyakit yang sebenarnya cukup umum terjadi, tetapi dapat disembuhkan ini, secara efektif.
Álvarez-Delgado, A., García, M. L. P., García-González, J. M., de Sena, H. I., Chamorro, A. J., Gómez, M. F. L., Marcos, M., & Mirón-Canelo, J. A. (2021). Improvements in the effectiveness of early detection in colorectal cancer with open-label randomised study. Journal of Clinical Medicine, 10(21), 5072. https://doi.org/10.3390/jcm10215072
Sifaki-Pistolla, D., Poimenaki, V., Fotopoulou, I., Saloustros, E., Mavroudis, D., Vamvakas, L., & Lionis, C. (2022). Significant rise of colorectal cancer incidence in younger adults and strong determinants: 30 years longitudinal differences between under and over 50s. Cancers, 14(19), 4799. https://doi.org/10.3390/cancers14194799
Rawla, P., Sunkara, T., & Barsouk, A. (2019). Epidemiology of colorectal cancer: Incidence, mortality, survival, and risk factors. Przegla̜d Gastroenterologiczny, 14(2), 89–103. https://doi.org/10.5114/pg.2018.81072
Dharwadkar, P., Zaki, T. A., & Murphy, C. C. (2022). Colorectal cancer in younger adults. Hematology/Oncology Clinics of North America, 36(3), 449–470. https://doi.org/10.1016/j.hoc.2022.02.005
Wong, M. C., Ding, H., Wang, J., Chan, P. S., & Huang, J. (2019). Prevalence and risk factors of colorectal cancer in Asia. Intestinal Research, 17(3), 317–329. https://doi.org/10.5217/ir.2019.00021
Lim, S. Y., Ulaganathan, V., Nallamuthu, P., Gunasekaran, B., & Salvamani, S. (2024). Dietary patterns and lifestyle factors associated with the risk of colorectal cancer: A hospital-based case-control study among malaysians. The Malaysian Journal of Medical Sciences : MJMS, 31(1), 212–234. https://doi.org/10.21315/mjms2024.31.1.18
Mehta, R. S., Song, M., Nishihara, R., Drew, D. A., Wu, K., Qian, Z. R., Fung, T. T., Hamada, T., Masugi, Y., da Silva, A., Shi, Y., Li, W., Gu, M., Willett, W. C., Fuchs, C. S., Giovannucci, E. L., Ogino, S., & Chan, A. T. (2017). Dietary patterns and risk of colorectal cancer: Analysis by tumor location and molecular subtypes. Gastroenterology, 152(8), 1944-1953.e1. https://doi.org/10.1053/j.gastro.2017.02.015
Namasivayam, V., & Lim, S. (2017). Recent advances in the link between physical activity, sedentary behavior, physical fitness, and colorectal cancer. F1000Research, 6, 199. https://doi.org/10.12688/f1000research.9795.1
Mehraban Far, P., Alshahrani, A., & Yaghoobi, M. (2019). Quantitative risk of positive family history in developing colorectal cancer: A meta-analysis. World Journal of Gastroenterology, 25(30), 4278–4291. https://doi.org/10.3748/wjg.v25.i30.4278
Mohammad, N. M. A. B., Shahril, M. R., Shahar, S., Fenech, M., & Sharif, R. (2022). Association between diet-related behaviour and risk of colorectal cancer: A scoping review. Journal of Cancer Prevention, 27(4), 208–220. https://doi.org/10.15430/JCP.2022.27.4.208
Amitay, E. L., Carr, P. R., Jansen, L., Roth, W., Alwers, E., Herpel, E., Kloor, M., Bläker, H., Chang-Claude, J., Brenner, H., & Hoffmeister, M. (2020). Smoking, alcohol consumption and colorectal cancer risk by molecular pathological subtypes and pathways. British Journal of Cancer, 122(11), 1604–1610. https://doi.org/10.1038/s41416-020-0803-0
Morris, J. S., Bradbury, K. E., Cross, A. J., Gunter, M. J., & Murphy, N. (2018). Physical activity, sedentary behaviour and colorectal cancer risk in the UK Biobank. British Journal of Cancer, 118(6), 920–929. https://doi.org/10.1038/bjc.2017.496
Chu, Q. D., Zhou, M., Medeiros, K. L., Peddi, P., Kavanaugh, M., & Wu, X.-C. (2016). Poor survival in stage IIB/C (T4n0) compared to stage IIIA (T1-2 n1, t1n2a) colon cancer persists even after adjusting for adequate lymph nodes retrieved and receipt of adjuvant chemotherapy. BMC Cancer, 16, 460. https://doi.org/10.1186/s12885-016-2446-3
Aune, D., Chan, D. S. M., Lau, R., Vieira, R., Greenwood, D. C., Kampman, E., & Norat, T. (2011). Dietary fibre, whole grains, and risk of colorectal cancer: Systematic review and dose-response meta-analysis of prospective studies. The BMJ, 343, d6617. https://doi.org/10.1136/bmj.d6617
Orange, S. T. (2023). What is the optimal type and dose of physical activity for colorectal cancer prevention? Best Practice & Research Clinical Gastroenterology, 66, 101841. https://doi.org/10.1016/j.bpg.2023.101841
Helsingen, L. M., & Kalager, M. (2022). Colorectal cancer screening—Approach, evidence, and future directions. NEJM Evidence, 1(1). https://doi.org/10.1056/EVIDra2100035
Hansen, T. F., Qvortrup, C., & Pfeiffer, P. (2021). Angiogenesis inhibitors for colorectal cancer. A review of the clinical data. Cancers, 13(5), 1031. https://doi.org/10.3390/cancers13051031
Martinelli, E., Ciardiello, D., Martini, G., Troiani, T., Cardone, C., Vitiello, P. P., Normanno, N., Rachiglio, A. M., Maiello, E., Latiano, T., De Vita, F., & Ciardiello, F. (2020). Implementing anti-epidermal growth factor receptor (Egfr) therapy in metastatic colorectal cancer: Challenges and future perspectives. Annals of Oncology, 31(1), 30–40. https://doi.org/10.1016/j.annonc.2019.10.007
Changjiang, Y., Long, Z., Yilin, L., Shan, W., Yingjiang, Y., & Zhanlong, S. (2023). Current progress of immune checkpoint inhibitors for advanced colorectal cancer: Concentrating on the efficacy improvement. Critical Reviews in Oncology/Hematology, 104204. https://doi.org/10.1016/j.critrevonc.2023.104204
MBBS (Singapore), MRCS (Edinburgh), FRCS (Edinburgh), Master of Medicine (Surgery)
Perawatan Komprehensif terhadap Kolorektal, dari Pemeriksaan hingga Operasi.
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Aaron Poh.
Dr. Aaron Poh adalah seorang Dokter Spesialis Bedah Kolorektal dan Bedah Umum dengan pengalaman yang luas dalam bidang operasi minimal invasif (operasi lubang kunci). Beliau melakukan berbagai macam prosedur bedah, termasuk gastroskopi, kolonoskopi, dan perawatan endoskopi canggih, seperti pengangkatan polip kompleks dengan EMR dan pemasangan stent usus besar. Keahlian beliau dalam bidang pembedahan mencakup operasi kanker kolorektal, perbaikan hernia, pengangkatan kantung empedu, serta perawatan yang telah terbukti untuk menangani wasir dan kondisi anus lainnya.