Logo

5 Tanda Diet Low-FODMAP Mungkin Cocok untuk Anda

Jika Anda pernah mengalami gangguan pencernaan akibat sindrom iritasi usus (IBS), Anda mungkin sudah pernah mendengar tentang diet rendah FODMAP (Low-FODMAP). Bagaimana Anda tahu apakah diet Low-FODMAP akan membantu Anda, dan apa saja tanda-tanda yang perlu diperhatikan?

Apa itu Diet Low-FODMAP?

Diet rendah FODMAP dirancang untuk membantu mereka yang menderita sindrom usus besar yang mudah teriritasi. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari diet ini adalah untuk mencari tahu makanan mana yang memicu gejala Anda dan menciptakan pola makan yang berkelanjutan untuk jangka panjang.

Istilah "FODMAP" singkatan dari fermentable oligosaccharides, disaccharides, mono-saccharides and polyols (oligosakarida, disakarida, monosakarida, dan poliol yang dapat difermentasi). Dengan kata lain, zat-zat tersebut adalah jenis karbohidrat tertentu, seperti gula, pati, dan serat, yang umumnya ditemukan dalam makanan yang kita konsumsi. Hal ini dikarenakan karbohidrat rantai pendek seperti ini dapat mengiritasi saluran pencernaan. Contohnya adalah:

  • Fruktosa - buah-buahan, madu, sirup jagung tinggi fruktosa
  • Laktosa - keju dan susu
  • Fruktan - gandum, bawang merah, bawang putih
  • Galaktan - kacang-kacangan dan legum
  • Poliol - alkohol gula atau buah-buahan yang memiliki biji keras, seperti apel

Diet FODMAP adalah pola makan yang sangat ketat, meskipun sifatnya hanya sementara. Tujuannya adalah untuk mengeliminasi jenis karbohidrat tertentu dari makanan Anda yang sering kali dapat memicu IBS.

Bagaimana cara menjalani diet Low-FODMAP?

Idealnya, diet Low-FODMAP dilakukan dengan membatasi jenis makanan tertentu dan memperhatikan bagaimana sistem pencernaan Anda bereaksi terhadap pembatasan tersebut guna mencari tahu jenis makanan yang mungkin dapat memperparah gejala IBS Anda.

Hal ini dapat dilakukan dalam 3 tahap:

  • Pembatasan
    Meskipun kandungan FODMAP dalam makanan kita umumnya penting untuk kesehatan usus, makanan tinggi FODMAP harus dihindari selama 3-8 minggu.
  • Reintroduksi
    Tahap ini bertujuan untuk memahami makanan apa saja yang dapat ditoleransi oleh sistem pencernaan Anda. Makanan tertentu harus dimasukkan kembali secara bertahap ke dalam pola makan Anda untuk melihat bagaimana reaksi tubuh terhadapnya. Dokter akan bekerja sama dengan Anda selama proses ini.
  • Personalisasi
    Setelah Anda mengidentifikasi makanan FODMAP mana yang mengganggu sistem pencernaan, Anda kemudian dapat merancang secara personal pola makan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan usus Anda.

    Jangan khawatir! Dokter Anda akan mendampingi dan memberikan panduan selama proses diet Low-FODMAP.

Apa saja tanda-tanda bahwa Anda mungkin perlu mencoba diet Low-FODMAP?

  • Kram
    Intensitas kram dapat bervariasi, dengan tingkat nyeri dari ringan hingga sedang. Frekuensi serangannya pun berbeda-beda pada setiap orang. Namun, kram sering kali datang ketika Anda menghadapi stres emosional yang hebat atau, mungkin, baru saja menyantap porsi makan yang sangat besar.
  • Sembelit
    Ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses dikenal sebagai konstipasi atau sembelit. Sekalipun feses dapat keluar, pasien IBS sering melaporkan bentuk feses yang menyerupai butiran kecil dan sangat keras. Mereka juga merasa seolah-olah tidak merasa jauh lebih lega setelah buang air besar.
  • Perut kembung, penumpukan gas, dan buang angin (kentut)
    Banyak pasien IBS sering melaporkan perut mereka mendadak kembung setelah makan, dan yang dimaksud adalah kembung secara tidak normal serta signifikan, lebih dari sekadar perut buncit biasa setelah makan (food baby). Hal ini disebabkan oleh fermentasi karbohidrat oleh bakteri yang melepaskan gas di dalam usus. Kondisi ini dapat menyebabkan perut kembung atau sering buang angin.
  • Diare
    Feses encer atau cair bukanlah hal yang asing bagi mereka yang menderita IBS. Episode diare ini cenderung terjadi pada pagi hari atau setelah makan. Gangguan ini bisa bersifat ringan atau sangat mengganggu, yang membuat Anda harus sering ke toilet, bahkan merasa takut untuk bepergian jauh tanpa adanya akses ke toilet.

Bagaimana dokter dapat mengetahui apakah Diet Low-FODMAP cocok untuk Anda?

Sekali lagi, semuanya bermuara pada apakah Anda memenuhi kriteria sebagai pasien IBS atau tidak. Di luar gejala yang dirasakan, dokter akan melakukan penelusuran riwayat kesehatan secara menyeluruh dan berbagai tes diagnostik untuk memastikan apakah diet low-FODMAP akan membantu Anda.

Penanda yang paling umum untuk IBS adalah kriteria Rome IV, yang mendefinisikan IBS sebagai nyeri perut berulang, dengan rata-rata setidaknya satu hari per minggu dalam tiga bulan terakhir, yang dikaitkan dengan lebih dari dua dari kriteria berikut [17,25]:

  • Buang air besar
  • Perubahan frekuensi buang air besar
  • Perubahan bentuk (tampilan) feses

Ada 4 subtipe utama IBS yang didiagnosis, terutama dengan bantuan bagan yang dikenal sebagai Bristol stool form scale (BSFS).

  • IBS dengan dominasi sembelit – pergerakan usus abnormal yang didominasi oleh konstipasi (tipe 1 dan 2 pada BSFS)
  • IBS dengan dominasi diare – pergerakan usus abnormal yang biasanya berupa diare (tipe 6 dan 7 pada BSFS)
  • IBS dengan kebiasaan buang air besar campuran – pergerakan usus abnormal yang biasanya berupa sembelit sekaligus diare (lebih dari seperempat dari seluruh pergerakan usus yang abnormal berupa konstipasi dan lebih dari seperempatnya berupa diare)
  • IBS tak terklasifikasi – pasien yang memenuhi kriteria diagnostik untuk IBS, tetapi tidak dapat dikategorikan secara akurat ke dalam salah satu dari tiga subtipe lainnya.

Tes Laboratorium 

Setelah riwayat kesehatan diketahui, tes hitung darah lengkap dan data lainnya akan diperlukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari gangguan perut, seperti kanker kolorektal, yang tentu saja tidak akan teratasi hanya dengan mengubah pola makan.

Tanda-tanda diet Low-FODMAP mungkin tidak berhasil

  • Usia awal kemunculan IBS adalah setelah 50 tahun
  • Pendarahan pada rektum atau melena
  • Diare nokturnal (malam hari)
  • Nyeri perut yang progresif
  • Penurunan berat badan yang tanpa sebab
  • Kelainan hasil tes laboratorium (anemia defisiensi besi, peningkatan protein C-reaktif atau faecal calprotectin/lactoferrin)
  • Riwayat keluarga dengan IBD atau kanker usus besar

Hal ini dikenal sebagai tanda-tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi masalah yang mungkin lebih mengkhawatirkan daripada sekadar IBS. Meskipun biasanya hasilnya negatif, tanda-tanda ini mungkin mengharuskan dokter untuk melakukan tes tambahan guna memastikan apakah ada penyakit yang lebih berbahaya dan perlu lebih diwaspadai.

Pada akhirnya, penting untuk menyampaikan kebutuhan sekaligus kekhawatiran Anda kepada dokter, agar mereka dapat bekerja sama dengan Anda dalam merancang rencana pengobatan (dan pola makan!) yang paling sesuai untuk Anda.

Kesimpulan

Dalam sebagian besar waktu, sindrom iritasi usus besar dapat mereda dengan sendirinya, meskipun alasannya mungkin sama tidak jelasnya dengan penyebab awalnya.

Pada akhirnya, menerapkan pola makan yang sehat dan beberapa perubahan gaya hidup, serta memperhatikan usus Anda dan bagaimana organ tersebut bereaksi terhadap jenis makanan atau lingkungan tertentu, dapat membantu mempelajari cara mengelola gejala IBS dengan lebih baik. Kendati demikian, carilah bantuan dari dokter jika Anda merasa gejala sudah di luar kendali atau menyebabkan penderitaan, sehingga dokter dapat bekerja sama dengan Anda untuk menentukan rencana pengobatan yang paling sesuai.

Jika gejala perut sensitif Anda secara bertahap memburuk atau Anda sampai mengalami feses berdarah, pendarahan dubur, atau penurunan berat badan secara tiba-tiba, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Ajukan Pertanyaan
Apa yang bisa kami bantu?

Kami menawarkan rangkaian konsultasi komprehensif untuk semua masalah Bedah Umum dan Perut.

Beri tahu kami bagaimana kami dapat membantu Anda.
Hubungi Kami

Dr Aaron Poh

MBBS (Singapore), MRCS (Edinburgh), FRCS (Edinburgh), Master of Medicine (Surgery)

Perawatan Komprehensif terhadap Kolorektal, dari Pemeriksaan hingga Operasi.

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Aaron Poh.
Dr. Aaron Poh adalah seorang Dokter Spesialis Bedah Kolorektal dan Bedah Umum dengan pengalaman yang luas dalam bidang operasi minimal invasif (operasi lubang kunci). Beliau melakukan berbagai macam prosedur bedah, termasuk gastroskopi, kolonoskopi, dan perawatan endoskopi canggih, seperti pengangkatan polip kompleks dengan EMR dan pemasangan stent usus besar. Keahlian beliau dalam bidang pembedahan mencakup operasi kanker kolorektal, perbaikan hernia, pengangkatan kantung empedu, serta perawatan yang telah terbukti untuk menangani wasir dan kondisi anus lainnya.

Dr Aaron Poh

MBBS (Singapore), MRCS (Edinburgh), FRCS (Edinburgh), Master of Medicine (Surgery)
3 Mount Elizabeth #14-06
Singapore 228510
LIHAT LOKASI
319 Joo Chiat Place #04-07
Singapore 427989
LIHAT LOKASI
1 Farrer Park Station Rd #16-04 Singapore 217562
LIHAT LOKASI
Senin–Jumat: 9:00AM – 5:00PM
Sabtu: 9:00AM - 12:30PM
Minggu & Libur Bersama: TUTUP

Hak Cipta © Alpine Surgical Practice | Syarat & Ketentuan

cross